Connect with us

Kabar Asik

Ternyata Ini Filosofi Warna Seragam SD, SMP hingga SMA

Published

on

Bekawan.com -Seragam Sekolah di Indonesia khususnya sekolah negeri dari dulu hingga sekarang tak berubah dari segi warna, baju berwarna putih sedangkan celana dan rok warnanya merah untuk SD, biru untuk SMP dan abu-abu untuk SMA.

Dan ternyata, warna disetiap tingkatan sekolah tersebut memiliki filosofi tersendiri, seperti dikutip dari wowmenariknya.com dan IG @Wowfakta, berikut filosofi warnanya.

Untuk tingkat dasar, warna yang digunakan adalah warna merah. Warna merah menggambarkan keceriaan, dengan menggunakan warna merah, diharapkan siswa-siswi tingkat dasar belajar di sekolah dengan ceria serta bersemangat.

Untuk tingkat menengah pertama, warna yang digunakan adalah biru. Warna biru ternyata menggambarkan percaya diri. Dengan menggunakan warna biru, diharapkan siswa-siswi SMP lebih percaya diri dan mandiri.

Siswa-siswi yang telah lulus dari tingkat dasar akan memasuki suasana baru di tingkat pertama. Mereka akan sedikit demi sedikit dituntut untuk percaya diri dan mandiri karena tentu saja sistem belajar mengajar akan berbeda dari saat mereka berada di tingkat dasar.

Yang terakhir adalah tingkat atas. Tingkat atas atau yang kita kenal SMA memilih warna abu-abu sebagai warna seragam. Warna abu-abu menggambarkan kedewasaan. Sudah bisa ditebak jika siswa-siswi SMA harus lebih dewasa bukan hanya dari pemikiran maupun dari perbuatan mereka.

Tingkat SMA akan menuntut siswa-siswinya untuk lebih dewasa dalam berbagai aspek. Hal ini karena tingkat SMA merupakan tingkat terakhir sebelum memasuki dunia perkuliahan. Setelah lulus dari SMA tentu saja namanya bukan lagi siswa tapi mahasiswa.

Sumber: wowmenariknya.com/IG @Wowfakta/wofficlothing

Continue Reading

Kabar Asik

Nissa Sabyan akan Meriahkan Pembukaan MTQ XXXVIII Riau di Kampar

Published

on

Bekawan.com – Jika tidak ada aral melintang, pembukaan MTQ ke XXXVIII tingkat Provinsi Riau yang akan berlangsung di Kota Bangkinang akan dimeriahkan oleh Nissa Sabyan, grup gambus yang sukses menyanyikan ulang lagu-lagu bernuansa islami.


Hal ini sampaikan Bupati Kampar H. Catur Sugeng Susanto saat memberikan arahan dalam Apel Gabungan ASN Kampar di halaman Kantor Bupati Kampar, Senin (30/9).

Personil Sabyan Gambus.


“Untuk pembukaan insyaallah kita akan  mendatangkan artis Gambus religi Nisa Syabian, semoga ini memberikan hiburan sekaligus memeriahkan MTQ tingkat Provinsi XXXVIII 2019,” tambahnya lagi.


Dijadwalkan, MTQ tingkat Provinsi Riau ini akan digelar di Kawasan Water Front City atau Bangkinang River Side Bangkinang Kota tanggal 24 November mendatang, untuk itu bupati mengajak ASN dan Warga Kampar untuk menggaungkan dan menyemarakkan ajang antar Kabupaten Kota se Riau tersebut.

“Terkait pelaksanaan MTQ yang sudah di depan mata mari kita gemakan Kepada seluruh kalangan masyarakat pada berbagai sarana media, saya menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat mari kita sukseskan Pelaksanaan MTQ XXXVIII Provinsi Riau di Kabupaten Kampar ini,” pinta Catur.


Kehadiran Grup Gambus Sabyan di Kabupaten Kampar dalam acara pembukaan MTQ tingkat Provinsi Riau juga telah diamini personil Sabyan, lewat sebuah video Vokalis Sabyan Nissa mengajak masyarakat untuk menyukseskan MTQ Riau yang dihelat di Kabupaten Kampar.


Continue Reading

Kabar

5 Fakta Water Front City, Jembatan Termegah di Kampar yang disorot KPK

Published

on

teks foto: Jembatan Water Front City (sumber: Deskgram/internet).

Bekawan.com – Jembatan Water Front City yang menghubungkan Kecamatan Bangkinang Kota dan Kecamatan Bangkinang ini dibangun memakai sistem multi year dan menghabiskan anggaran sebesar Rp 117,68 miliar.

Berikut sejumlah fakta terkait jembatan Water Front City (WFC) Bangkinang :

  1. Jembatan Termegah di Kampar
Kemegahan Jembatan WFC Bangkinang. (sumber : lancangkuning.com)

Menghabiskan Anggaran sebesar Rp 117,68 miliar menjadikan jembatan yang melintasi Sungai Kampar ini menjadi jembatan termegah se Kabupaten Kampar. Bangunan yang mencolok dengan warna biru dan berbentuk seperti gelombang ini juga dilengkapi lampu-lampu yang selalu berganti warna setiap beberapa detik. Tak heran jembatan ini menjadi salah satu tempat favorit untuk berswafoto atau berselfie ria.

2. Berganti Nama

Jembatan yang membentang diatas Sungai Kampar ini sempat berganti nama dari Water Front City menjadi Bangkinang River Side dimasa Kepemimpinan Bupati Alm. Azis Zaenal, perubahan nama tersebut terpajang di Tugu yang di bangun membentuk haluan kapal.

Tugu Bangkinang River Side.

3. Tugu yang Kontroversi

Tugu Bangkinang River Side juga tak lepas dari kontroversi, banyak yang mengkritik pembangunan haluan kapal, seperti yang diungkapkan seniman ocu Oren Gompo yang menilai tugu tersebut yang seolah-olah menggambarkan kapal tenggelam.

Pekerja jembatan saat menyambungkan kerangka jembatan.

Pencipta lagu Ocu ini juga mengkritik nama bangunam tersebut yang tidak mengangkat nama berbahasa ocu dan tidak melambangkan ciri khas daerah Kabupaten Kampar.

4. Aksi Vandalisme

Kemegahan Jembatan WFC tercoreng dengan banyaknya aksi Vandalisme orang-orang yang tidak bertanggungjawab, sejumlah coretan terlihat mencolok dibeberapa sisi jembatan.

Sejumlah aksi Vandalisme.

5. Menimbulkan Kerugian Negara, Sejumlah Pejabat Terindikasi Korupsi

KPK menetapkan 2 tersangka dalam kasus Korupsi Proyek Multi Year Water Front City, lembaga anti rausah tersebut menduga proyek ini merugikan negara sebesar Rp. 39,2 miliar.

Dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka yakni Pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan Jembatan Waterfront Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Kampar, Adnan (ADN) dan Manajer Wilayah ll PT Wijaya Karya (Persero) Tbk/Manajer Divisi Operasi I PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, I Ketut Suarbawa (IKS).

KPK sepertinya masih mendalami kasus korupsi WFC untuk mengetahui siapa saja oknum penjabat Kampar yang terlibat dalam proyek yang dibangun dianggaran 2015-2016 lalu.

Sejumlah Personil Polisi menjaga Bangunan Serbaguna Polres Kampar yang menjadi tempat pemeriksaan pejabat Kampar oleh KPK.

KPK kembali memeriksa sejumlah Pejabat dan Mantan Anggota DPRD Kampar sejak Rabu hingga Kamis (4-5 September 2019).

Seperti Mantan Ketua DPRD 2009-2014 Syafrizal dan Unsur Pimpinan DPRD masa jabatan 2014-2019 dan Ahmad Fikri dan Ir. Sahidin.

Sejumlah Mantan Penjabat di Dinas Bina Marga Kampar juga tak luput dari pemeriksaan, seperti Pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan Jembatan Waterfront Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Kampar, Adnan yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bersama Manajer Wilayah ll PT Wijaya Karya (Persero) Tbk/Manajer Divisi Operasi I PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, I Ketut Suarbawa (IKS).

Turut diperiksa di Gedung Serbaguna Mapolres Kampar, Muhammad Katim PPK Perencanaan Proyek Jembatan Water Front City, Kasubag Umum dan Perencanaan Dinas Bina Marga dan Pengairan M Ropi dan staf Roni.

Mantan Sekretaris Dinas Bina Marga Zaini Dahlan, Mantan Kepala Bappeda Azwan, Kasi Jalan dan Jembatan Zainal Arifin serta sejumlah ASN dilingkup Dinas Bina Marga.

Continue Reading

Kabar Asik

“Mangonang Kampuong Lamo” Cara Warga Pulau Gadang Memandang Masa Lalu

Published

on

Bekawan.com -Ribuan masyarakat Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar tumpah ruah dijalan desa, dengan memakai pakaian tempoe doeloe, lengkap dengan aksesoris penunjang seperti koper jadul hingga peralatan sehari-hari.

Ramainya disepanjang Jalan Kampung penghasil Ikan Patin ini bukan tanpa sebab, mereka tengah memperingati dan merayakan perpindahan desa mereka, Sabtu (24/8/2019).

Salah satu peserta pawai mendorong sepeda onthel yang ngetren dizamannya.

Agustus 2019 ini, sudah 27 tahun mereka meninggalkan kampung mereka yang kini telah berubah menjadi danau karena pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang.

“Inilah bakti kami untuk pertiwi,” ungkap salahsatu bait warga dalam penampilannya diacara “Festival Mangonang Kampuong Lamo” ini.

Acara yang dibuka sejak Jumat (23/8/2019) malam ini juga diramaikan dengan penampilan seni tari dari 21 Kecamatan se Kabupaten Kampar yang didukung Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kampar, kemeriahan yang berlangsung hingga larut malam kemudian dilanjutkan Sabtu pagi dengan agenda pawai yang dimulai dari lapangan desa Tugu Kusuma Bantolo.

Kekompakan warga terlihat dengan ramainya peserta pawai yang diprediksi mencapai ribuan orang, dengan berbagai pakaian yang disesuaikan dengan peran masing-masing.

Pengantin tempo doeloe.

Ada yang berpakaian seperti petani lengkap dengan Katindang, Kampie hingga nelayan lengkap dengan perelatan mencari ikan mulai dari pukat, jala, hingga tombak. Ada juga yang nyentrik dengan gaya anak muda tempoe doeloe, ada juga yang kalem memakai pakaian pengantin zaman manusia belum mengenal selfie.

Usai pawai, warga, niniok mamak, perangkat desa berbaris rapi mengikuti upacara perpindahan desa yang dipimpin Camat XIII Koto Kampar, Ahmad Fajri SSTP.

Usai upacara, rangkaian Mangonang Kampuong Lamo ini dilanjutkan dengan penampilan spesial dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari anak TK hingga SMA, serta penampilan warga dusun yang menampilan kehidupan warga Pulau Gadang tempoe doeloe, yang sukses mengundang senyum gelak tawa, sedih hingga air mata sejumlah warga.

salah satu peserta pawai.

“Saya sempat menangis saat penampilan kehidupan kaum ibu tempoe doeloe yang berprofesi sebagai pemecah batu, mereka saling berebut batu untuk dipecah, memang begitu kenyataannya waktu dulu,” ungkap Akhir Yani, Ketua PWI Kampar yang merupakan warga asli Pulau Gadang usai cara.

Tak hanya kehidupan kaum ibu tempoe doeloe, penampilan tentang prosesi meminang, menanam padi kasang dengan cara batobo, mencari ikan hingga kehidupan anak-anak di “Kampuong lamo” diperankan penuh penghayatan oleh para pelakon yang merupakan warga tempatan.

Pucuok Adat Sawir Datuok Tandiko didampingi Camat Fajri dan Ketua BPD Syofian Dt. Majosati usai mengikuti pawai.

Begitulah Warga Pulau Gadang memaknai “masa lalu” yang penuh kenangan suka dan duka, perjuangan dan doa, penuh semangat dan optimis bahwa mereka hijrah tak hanya sekedar hijrah, pindah tak berarti hanya berganti tempat tapi mereka pindah membawa kenangan, adat istiadat yang mereka miliki sehingga tak lapuk karena hujan tak lekang oleh panas.

“Filosofinya dari rangkaian acara ini yang menampilkan tradisi, adat istiadat karena kami pindah ke desa baru ini, bukanlah pindah sembarang pindah saja, tapi kami pindah lengkap dengan adat istiadat, lengkap dengan agama, dan iman yang kami miliki,” ucap Syofian SH, MH Dt. Majosati Tokoh masyarakat yang juga Ketua BPD Pulau Gadang.

Oleh karena itu, lanjut Syofian, pada festival ini Pemerintahan Desa ingin merepresentasikan dalam bentuk klosal drama festival, “seperti kawan – kawan lihat tadi, bahwa itulah kehidupan masyarakat Desa Pulau Gadang dari dahulunya. Mulai perekonomiannya, sosial adat budayanya, yang sampai sekarang tak lapuk oleh hujan, dan lekang oleh panas,” ujar Syofian.

Ketua BPD Syofian SH,MH Dt. Majosati dan Anggota BPD lainnya memgikuti pawai.

Hal senada juga dikatakan Pucuk Adat Kenagarian Pulau Godang H Sawir, SP, MSi. Ia mengatakan, hari ini adalah momen yang luar biasa karena mengingatkan kembali kehidupan di masa lampau dan semangat untuk bersatu di masa mendatang.

Sementara itu, Camat XIII Koto Kampar Rahmat Fajri berharap tahun depan acara ini bisa dikemas lebih baik lagi dan nantinya bisa menjadi Iven untuk mendatangkan wisatawan yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kita dari Pemerintah Daerah akan berupaya untuk menjadikan ivent ini menjadi ivent tahunan daerah,” pungkas Camat.

Continue Reading

Trending