Karya Kawan
Cerpen : Guru Kontrak
Ilustrasi
Guru Kontrak
Oleh : Iben Nuriska
Aku memutuskan berhenti bekerja. Pagi ini, sehabis aku mandi, istriku mengeluh perih di perut. Ia berbaring miring ke kanan dengan menekuk kedua lutut dan menekan ulu hati. Aku mencari obat maag yang biasa disimpannya di laci meja kerjaku yang ternyata sudah habis. Ia terisak menahan sakit dan mulai berguling-guling di kasur. Aku tidak tahan melihatnya dan menghambur memeluknya sembari meminta maaf.
Tidak ada lagi yang bisa kujual hari ini untuk membawanya ke rumah sakit. Kami tidak terdaftar sebagai peserta asuransi kesehatan mana pun. Satu-satunya harapan aku beroleh uang hanyalah dari sekolah tempatku mengajar. Aku tidak lupa sekarang tanggal lima. Tapi sekolah belum buka sepagi ini dan bagian tata usaha selalu datang terlambat di tanggal gajian dengan alasan harus menyiapkan ampra gaji sampai dini hari. Tapi aku harus segera pergi mengambil gaji dan meninggalkan istriku yang tengah dililit sakit yang teramat. Bila perlu akan kudatangi rumah tata usaha itu.
Aroma telur dadar dari rumah petak di sebelah rumah petak yang kusewa menghantam kesadaranku. Sejak kemarin siang perutku dan perut istriku hanya berisi angin dan kami berbagi tawa hingga malam menghembuskan kantuk dan kami lelah dan tidur dalam lapar. Ingin kuketuk pintu rumah tetangga dan meminta sedikit apa yang ia masak untuk istriku andai saja aku tak ingat tetanggaku itu hanya seorang pemulung dengan empat orang anak susun paku – yang tua, laki-laki, baru berumur delapan tahun dan belum sekolah.
Tak kuhiraukan kemurahan hati yang mungkin kudapat – tetanggaku itu tak pernah enggan berbagi – dan berlari menyusuri gang sempit dan pesing menuju sekolah di seberang jalan besar di depan bibir gang.
Orang-orang dan polisi berkerumun di pinggir jalan. Sesosok mayat tertelungkup di atas genangan darah beku. Aku teringat istriku dan melihat kesempatan mempersingkat jarak ke sekolah. Kendaraan yang lewat bergerak pelan demi melihat kerumunan. Aku kembali berlari menuju pagar kawat pembatas jalan dan mulai memanjat.
Sudah separuh pagar kawat itu kudaki saat seorang polisi menarik kakiku. “Lepaskan, Pak!” aku memohon. Polisi itu semakin kuat menarik kakiku. Aku meronta. Dan ia terus menarik kakiku dibantu dua orang temannya yang entah kapan sudah berada di bawahku.
Aku kalah tenaga dan menyerah. Salah seorang dari polisi itu menyentak kakiku saat aku hendak turun. Tubuhku terjerembab dan keningku membentur aspal. Sakit sekali. Polisi itu menindihku dan menyilangkan kedua tanganku ke punggung. “Iya, Pak, aku salah. Harusnya aku lewat jembatan penyeberangan. Tapi itu menghabiskan waktu. Aku sedang buru-buru.”
Ketiga polisi itu seperti tidak mendengar ucapanku. Sebuah hentakan keras menghantam pergelangan tanganku dan aku sudah terborgol. “Tolonglah, Pak! Lepaskan aku. Aku harus tiba di sekolah secepatnya.”
Ketiga polisi itu tetap tak acuh dan memaksaku berdiri. Orang-orang seperti melupakan sesosok mayat di atas genangan darah beku di pinggir jalan besar dan mengerumuni kami. Sebagian dari orang-orang itu sangat mengenaliku sebagaimana aku mengenali mereka.
Terjadi ketegangan antara polisi dan orang-orang yang mengenalku. Ketua RT kami menjelaskan kalau polisi-polisi itu telah salah tangkap dan orang-orang membenarkan dan memaksa mereka melepaskanku. Polisi yang berpangkat paling tinggi bersedia melepaskanku asal ada uang jaminan sebesar satu juta sampai aku dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Kalau aku punya uang sebanyak itu, tak mungkin pagar kawat itu kupanjat, Pak, batinku.
Orang-orang memandangiku penuh iba. Mereka tahu kehidupanku sebagai guru kontrak. Tapi tak ada yang menyanggupi membayar uang jaminan kecuali Amir, tetanggaku, seorang pemulung. Polisi berpangkat paling tinggi itu menerima gumpalan uang dalam berbagai pecahan. Entah bagaimana aku harus berterima kasih padanya setelah polisi melepaskan borgolku.
Amir tersenyum dan mengangguk saat aku memandangi matanya dengan berkaca-kaca. “Pergilah, Pak Guru!’ senyumnya.
Aku kembali berlari menuju jembatan penyeberangan dan menyesal tidak meminjam uang kepada Amir. Tapi aku memang belum pernah berutang. Aku tak punya keberanian meminjam uang, apalagi kepada orang seperti Amir.
Murid-murid masih berkeliaran di halaman sekolah saat aku tiba. Pagi sudah jam delapan dan pelajaran sudah harus dimulai. Aku menuju ruang guru. Di sana, seluruh guru sedang berkumpul mendengarkan penjelasan kepala sekolah.
Ini bulan ke enam kami tidak menerima gaji. Guru-guru yang sudah berstatus pegawai negeri juga ikut protes kepada kepala sekolah. Mereka yang setiap bulannya menerima gaji pokok saja sudah tidak bisa bersabar, apalagi aku dan sepuluh guru kontrak yang hanya mengharapkan gaji dari yayasan.
“Saya sangat prihatin dan sudah berusaha agar gaji bulan ini dan gaji lima bulan sebelumnya bisa kami bayarkan. Tapi, apa boleh bikin. Saudara-saudara semua tahu, yayasan kita ini dibentuk atas inisiatif pemerintah daerah untuk merintis sekolah islam terpadu yang nantinya akan dijadikan sekolah negeri islam terpadu pertama. Dua tahun sudah kita mengabdi di sini, dan seluruh biaya dibebankan kepada APBD. Namun, di tahun ini, dana pembangunan dan operasional sekolah tidak lagi terdaftar dalam APBD.”
Mendengar itu, aku menembus kerumunan guru yang sudah tidak lagi duduk dengan tertib dan menghampiri kepala sekolah. “Sejak kapan anda mengetahui operasional sekolah kita tidak lagi ditanggung APBD?”
“Pak Somat, yang sopan kalau bicara!” ketus kepala sekolah.
“Saya sudah sangat sopan, Pak!”
“Saya tengah berusaha mencari jalan keluarga agar anda-anda semua dibayar.”
“Bukan itu yang saya tanyakan!”
“Ya! Saya mengetahui akhir tahun kemarin dalam sidang paripurna DPRD.”
“Kenapa anda masih memperpanjang kontrak kami?”
“Bupati berjanji akan menganggarkannya dalam APBD-Perubahan.”
Mendengar penjelasan itu aku memutuskan berhenti bekerja dan menghantamkan kursi kayu hingga patah ke kepala kepala sekolah. Entah berapa lama ia pingsan dan entah bagaimana keadaannya setelah itu. Aku tidak mau memikirkannya karena setibaku di rumah, sebelum pintu kamar kubuka, aku mencium wangi yang sangat yang belum pernah menyentuh bulu hidungku memenuhi seisi rumah.
Lama aku terpaku di muka pintu kamar dengan pikiran bercampur aduk. Lalu, pelan-pelan kubuka pintu. Wangi itu semakin kuat tercium. Aku memicingkan mata dan tak berani melihat kenyataan yang sedang kubayangkan. Aku duduk di sisi kasur busa yang terbentang di lantai memenuhi sepertiga luas kamar.
Sungai kesedihan meluap dan banjir airmata membobol sepasang mataku yang masih terkatup. Tanganku meraba-raba mencari tubuh istriku. Segalanya telah beku dan dingin di sekujur kakinya. Kaku. Begitu terus hingga ke mukanya. Aku membuka mata yang terus menumpahkan segala duka. Dari balik bintik-bintik kesedihan yang menutup lensa mataku, kulihat istriku tersenyum tanpa sedikit pun tergambar rasa sakit yang tadi pagi membekapnya. Entah kapan persisnya sakit itu pergi membawa istriku serta.
Umamotu batubelah, 161215
Kabar
Pengamat Politik: Polisi Dibawah Kementrian Sebuah Kemunduran dan Ancaman Serius
Bekawan.com – Pengamat Politik Boni Hargens menilai meletakkan instansi Polri dibawah kementrian adalah cacat logika, cacat tata negara dan melawan prinsip demokrasi. Hal itu ditegaskan dalam acara dialog di salah satu tv nasional, Selasa (10/2/2026) malam.
“Isu soal penempatan Polri di bawah kementerian bagi saya ini cacat logika, cacat tata negara dan melawan prinsip demokrasi, kenapa saya katakan demikian, karena demokrasi yang kita anut dibangun di atas tiga pilar yang namanya eksekutif, legislatif dan yudikatif, kenapa Trias politika itu ada dalam konteks bukan hanya separation of power tapi distribution of power,” ungkapnya.
Pembahasan itu mencuat usai sejumlah tokoh yang mengkritisi pemerintah bertemu dengan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu untuk membahas sejumlah persoalan, dalam pertemuan itu Presiden juga mengungkapkan perihal adanya usulan Polri dibawah kementrian.
Dosen Universitas Indonesia ini juga menjelaskan bahwa menentukan posisi Polri juga bicara soal distribusi kekuasaan, demokrasi mengatur tidak adanya konsentrasi kekuasaan pada satu tangan dan kepolisian adalah bagian dari namanya yudikatif bagian dari fungsi penegakan hukum.
“Polri bertanggung jawab kepada Presiden di situ dalam kapasitas kepala negara bukan kepala pemerintahan, karena sebagai kepala negara, presiden di atas semuanya, tapi sebaliknya kalau sebagai kepala pemerintahan, presiden hanya di atas kelompok politiknya dan birokrasi pemerintahan yang sedang berjalan. Kalau misalnya kepolisian ditaruh di bawah kementerian, kementerian itu artinya bicara kabinet, kabinet adalah pembantu presiden dalam kapasitas sebagai kepala eksekutif, kepala pemerintahan bukan kepala negara, maka ini juga akan menjadi pelemahan terhadap kewenangan presiden sebagai kepala negara. Presiden sebagai kepala negara itu akan kehilangan ruang dari aspek hukum untuk ikut terlibat di dalam menjamin kepastian hukum keadilan dan sebagainya,” paparnya.
Ia menilai meletakkan Polri di bawah kementerian adalah sebuah kemunduran dan sebuah ancaman yang serius sebagai penegakan hukum di masa depan, karena memberi ruang politisasi terhadap penegakan hukum.
Karya Kawan
Tantangan Utama Tranformasi Digital di Kampar
Bekawan.com – Nunik Handriani, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM., menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya dalam pengembangan layanan digital di Kabupaten Kampar. Ia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi mengelola sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak dapat digantikan.
Di Kabupaten Kampar, tantangan utama meliputi kompetensi SDM teknologi informasi, infrastruktur digital yang belum merata, serta kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung inovasi. Nunik menilai bahwa pendekatan berbasis Resource-Based View (RBV) diperlukan agar organisasi mampu memaksimalkan potensi sumber daya internal secara lebih terarah.
Ia mengusulkan analisis menyeluruh terhadap sumber daya yang dimiliki, memperkuat kolaborasi dengan universitas dan perusahaan teknologi, serta menyediakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi secara berkelanjutan. Penguatan infrastruktur seperti data center dan jaringan internet juga menjadi prioritas untuk memastikan layanan digital yang cepat dan transparan.
Nunik menekankan perlunya pengembangan kapabilitas dinamis agar organisasi mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta memastikan kebijakan berbasis data yang mendukung efisiensi dan akuntabilitas. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sumber daya akan menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Dalam pandangan Dr. Chandra Bagus sebagai masyarakat sekaligus peneliti Ilmu Manajemen, isu yang diangkat Nunik menunjukkan bahwa transformasi digital menuntut lebih dari sekadar kesiapan teknis. Ia menilai bahwa gagasan Nunik memperlihatkan pemahaman yang matang mengenai pentingnya tata kelola yang konsisten dan sinergi lintas sektor, serta memberi arah strategis bagi daerah yang ingin membangun layanan digital yang benar-benar berkelanjutan.
Karya Kawan
Tak ada Disharmonisasi di Kampar (Renungan kita, untuk melawan lupa)
By : Nur Adlin (Wakil Ketua Partai Golkar Pemenangan Pemilu Wilayah I)
Bekawan.com – Sekitar 8 tahun Kampar tak memiliki Wabup, plus 5 tahun sebelumnya (ada tapi tak ada), dalam rentang jarak total 13 tahun, ada Catur sugeng hadir sebagai Wabupnya Alm. Azis zaenal, juga berkeadaan miris dalam fungsinya, artinya bukan sebagai pelengkap, tapi lebih bawah dan lebih rendah dari itu.
Namun kini, Pemerintahan baru hasil Demokrasi telah berjalan setahun, walaupun saya sebagai penulis bukan bagian dari tim pemenangan, namun merasa patut dan boleh menyampaikan opini saya, terutama terkait tuduhan yang sengaja diberitakan tanpa parameter yang jelas, dan terkesan pikiran sporadis, tentang Disharmonisasi antara seorang Wabup yang dianggap over fungsi oleh orang yang menyampaikan berita.
Untuk itu perlu kita kembali tahu atau mengingat bahwa tugas Wakil Bupati adalah membantu Bupati menyelenggarakan pemerintahan daerah, memberikan saran, mengoordinasikan instansi vertikal, memantau pemerintahan kecamatan/desa, serta melaksanakan tugas Bupati saat berhalangan sementara (tahanan/sakit), atau tugas lain yang didelegasikan Bupati, termasuk menjadi Bupati definitif jika Bupati berhalangan tetap. Wakil Bupati bekerja di bawah arahan Bupati dan bertanggung jawab kepada Bupati.
Maka jelas Job Deskripsinya bukan sebagai pelengkap, atau diam-diam saja, tapi bagaimana mendorong efektivitas pemerintahan lebih baik, khusus Kampar, wajar ada keterkejutan yang dialami beberapa orang, karena sudah sekitar 13 tahun Kampar serasa memiliki Pimpinan tunggal, dan ketika sekarang posisi Wabup difungsikan sebagai mana mestinya-untuk optimalkan roda pemerintahan yang mempunyai beban kerja- tentu bagi yang gagal paham ada keanehan di frasa pikirannya, karena menemukan kerja Wabup yang aktif, yang sudah lama tak ditemukan di Kabupaten Kampar.
Dengan demikian, tulisan ini ada agar pemikiran yang ber-sakwasangka yang dapat membuat simpang siur itu menjadi lebih bijak dan arif. Kritikan adalah hal yang lumrah, tapi yang tendensius tentu saja kurang afdhol.
Bupati adalah pemimpin eksekutif tertinggi di daerah tentu saja akan memanfaatkan formasi kepemimpinannya termasuk juga Wakilnya untuk pencapaian Visi Misi dengan anggaran yang telah ditetapkan bersama DPRD dalam tahun berjalan dan juga mempersiapkan program dimasa kedepan, tentu saja dilengkapi dengan evaluasi untuk memaksimalkan apa yang akan dicapai.
Akhir dengan tulisan ini, izinkan saya untuk mengisi media sebagai wahana berfikir kita bersama dan memperkokoh kebersamaan dalam membangun negeri kita ini, walaupun fungsi kita sebagai masyarakat dengan berbagai latar belakang juga terhitung sebagai patriot yang sportif.
-
Kabar7 tahun agoTumpukan Uang dalam Kardus Hasil Korupsi
-
Karya Kawan4 tahun agoPermasalahan Menggunakan Media Pembelajaran Di Sekolah Dasar
-
Kabar Asik7 tahun agoTernyata Ini Filosofi Warna Seragam SD, SMP hingga SMA
-
Kabar Kampar6 tahun agoTanpa Penolakan Warga, Tim Gugus Covid Kampar Makamkan PDP Covid-19 di Gunung Sahilan
-
Kabar Asik7 tahun agoMunculnya Puluhan Ikan monster penghuni Sungai Kampar Hebohkan Warga
-
Kabar Asik6 bulan agoWarga di Kampar Tangkap Ikan Tapah Seberat 85 Kilogram
-
Kabar Asik7 tahun agoBazar MTQ Ke XXXVIII Riau Digelar Di Atas Jembatan WFC Bangkinang
-
Kabar Kampar7 tahun agoBersolek, Objek Wisata Danau Rusa Jadi Primadona
