Connect with us

Karya Kawan

Pembangunan Kemitraan Antar UMKM dan Pengusaha Media Digital

Published

on

 

Oleh: H. Fahmil, SE, ME

 

Bekawan.com – Lesunya perekonomian nasional di masa pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap tumbuh-kembang lebih dari 80% Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di tanah air. Padahal, menurut laporan Kementerian Koperasi dan UMKM, sebanyak 99,99% bisnis di Indonesia adalah UMKM, dengan total 64 juta unit dan mampu menyerap 97% tenaga kerja. Di Kabupaten Kampar saja, berdasarkan laporan Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMK Kabupaten Kampar, terdapat 8 bidang usaha dari total 18380 UMKM yang tersebar di 21 kecamatan.

Berkurangnya permintaan dan pasokan produk-produk UMKM selama masa pandemi berdampak pada keuangan yang dimiliki oleh para pelaku usaha. Keadaan ini semakin diperunyam oleh minimnya penguasaan platform digital sebagai media pemasaran yang efektif. Inilah kemudian menjadi penyebab banyaknya UMKM yang harus gulung tikar dan meningkatnya angka pengangguran.

Dukungan yang diberikan oleh Pj Bupati Kampar untuk memasukkan produk-produk UMKM di Kabupaten Kampar ke dalam aplikasi belanja online, e-katalog, yang dikembangkan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pemerintah (LKPP), menjadi angin segar bagi para pelaku usaha yang tergolong ke dalam kriteria UMKM. Dukungan ini merupakan langkah awal yang baik untuk meningkatkan daya saing dan perluasan pasar bagi produk-produk UMKM di Kabupaten Kampar.

Menurut hemat penulis, menjadikan platform e-katalog sebagai media pemasaran produk-produk UMKM dari Kab. Kampar akan lebih bijak bila langkah ini dimulai dengan memberikan penyadaran akan pentingnya penguasaan platform digital bagi pelaku usaha serta edukasi yang berkelanjutan, sehingga mereka bisa memanfaatkan pasar-pasar digital yang lain.

Selain itu, kualitas produk dan jaminan mutu menjadi faktor penentu bagi pelaku usaha agar dapat bertahan di pasar terbuka dalam jaringan tersebut. Tanpa adanya upaya peningkatan kualitas dan jaminan mutu produk-produk UMKM Kab. Kampar akan membuat daya saing mereka lemah di tengah semakin ketatnya persaingan usaha. Hal ini harus menjadi perhatian khusus dari pemerintah dan seluruh pihak terkait dalam menyelenggarakan perencanaan dan pelaksanaan upaya-upaya pengembangan UMKM di Kabupaten Kampar.

Meningkatkan kompetensi pelaku usaha dan menjadikan potensi daerah sebagai basis produksi yang berorientasi pasar merupakan fondasi utama bagi terciptanya iklim UMKM yang berdaya saing tinggi. Kunci untuk membangun fondasi utama tersebut adalah dengan melakukan pengawasan yang ketat serta pengendalian secara terpadu seluruh kebijakan pemerintah terkait pengembangan UMKM di Kabupaten Kampar.

Dari pemaparan di atas, kita lantas bertanya, mana yang lebih prioritas dalam membangun UMKM di Kabupaten Kampar? Penguasaan platform digital atau peningkatan daya saing.

Keduanya harus sama-sama digesa dengan membangun kemitraan antar UMKM dalam hubungan yang saling menguntungkan, mulai dari penyediaan bahan baku berbasis potensi daerah, proses produksi, dan membangun kemitraan UMKM dengan pengusaha media digital; media informasi dan e-commerce.

Kemitraan yang sehat antar UMKM penyedia bahan baku berbasis potensi daerah dengan UMKM yang bergerak dalam produksi dapat membuka peluang bermunculannya usaha-usaha baru dalam sektor UMKM dan meningkatkan serapan tenaga kerja guna mengurangi angka pengangguran. Kemitraan ini juga berguna untuk mencegah terjadinya penguasaan pasar atau monopoli bisnis dari hulu ke hilir yang jelas-jelas bertentangan dengan falsafah ekonomi Pancasila yang berkeadilan.

Pemerintah dan seluruh pihak terkait dalam upaya pengembangan UMKM di Kabupaten Kampar juga harus mampu menciptakan kemitraan antara UMKM dengan pengusaha media digital. Kemitraan ini sangat berguna dalam mempermudah pembentukan bank data dan jaringan informasi bisnis. Sebagaimana tugas media dalam mengadakan dan menyebarluaskan informasi, kemitraan ini akan saling menguntungkan.

Bagi pelaku UMKM yang masih minim penguasaan platform digital dapat mengandalkan para pengusaha media untuk menjembatani mereka dengan pasar berbasis digital. Dan, bagi pengusaha media, kemitraan ini menjadi penunjang bagi keberlangsungan bisnis mereka.

Sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kampar dari fraksi PKS, penulis berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah, baik itu berupa program mau pun regulasi dalam bentuk peraturan daerah untuk menumbuhkan iklim berusaha bagi UMKM dan terbangunnya kemitraan antar UMKM dan kemitraan antara UMKM dengan pengusaha media berbasis digital.

Penulis adalah Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kampar dari Fraksi PKS

Continue Reading

Karya Kawan

Suku Akit dan Alam

Published

on

Suku Akit Bengkalis. Foto : Resinta

 

Bekawan.com – Manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Dalam kehidupan, manusia dan alam saling berkaitan dan bersifat fungsional satu sama lain. Sebagai makhluk Tuhan, hidup bersama didunia antara manusia dengan alam sama juga hidup dalam kerja sama dan tolong menolong.

Menjaga hubungan harmonis dengan alam dengan merawat dan tidak merusaknya, alam yang sangat banyak memberikan manfaat kepada manusia sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, menarik manusia untuk bertanggung jawab dalam memelihara dan melestarikan sumber daya alam bagi kehidupan generasi dimasa yang akan datang.

Berkaitan lagsung dengan kehidupan Suku Akit yang ada di Pulau Bengkalis Desa Teluk Papal dapat menjadi contoh bagaimana manusia dan alam saling bekerjasama dalam kehidupan.

Pada kearifan lokal Suku Akit, kita temukan banyak tanda-tanda secara verbal maupun non-verbal yang dengan kreatif bersama menjaga dan memelihara lingkungan sehingga dapat menginterpretasikan makna dan pesan yang terdapat pada kearifan lokal dalam kebudayaan Suku Akit.

Dapat dilihat 50% kehidupan Suku Akit berasal dari alam. Contohnya adalah pelestarian mangrove. Bagi Suku Akit yang hidup dan tinggal di pesisir pantai hutan mangrove atau yang biasa disebut dengan pohon bakau memiliki manfaat yang sangat besar. Pohon bakau merupakan tumbuhan yang dapat menahan arus air laut agar tidak mengikis tanah di garis pantai, sehingga dapat menimalisir terjadinya abrasi.

Selain itu, batang mangrove juga dapat menjadi bahan utama dalam membuat sampan atau kapal sebagai alat mata pencaharian Suku Akit, berlayar mengambil hasil laut untuk dikonsumsi. Lalu masih dengan fungsi batang mangrove yang digunakan sebagai material pembuatan rumah, lalu dipadukan dengan daun rumbia yang disusun dengan rapat agar bisa digunakan sebagai atap dan kayu bakau yang digunakan sebagai bahan bakar arang.

Rumbia atau disebut juga dengan pohon sagu yang merupakan sejenis palma penghasil tepung sagu digunakan Suku Akit sebagi pakan ternak. Suku Akit juga bercocok tanam, seperti menanam umbi umbian, penyadapan pohon karet, pengolahan buah pinang, dan beberapa pohon sawit.

Selanjutnya Suku Akit berburu binatang di hutan. Salah satunya adalah berburu babi, kegiatan yang dilakukan kaum laki laki yang dibantu oleh anjing sebagai binatang pemburunya. Biasanya berburu babi akan dilakukan dalam kurun waktu seminggu atau dua minggu sekali. Dan lokasi berburunya akan berpindah pindah, hutan yang banyak ditumbuhi semak belukar yang mana diperkirakan masih banyak hama babi yang berada didalamnya akan menjadi tempat penjelajahan. Hasil buruan akan dikonsumsi atau juga di kembangbiakkan.

Oleh : Resinta, S.I.Kom

Continue Reading

Karya Kawan

Permasalahan Menggunakan Media Pembelajaran Di Sekolah Dasar

Published

on

Ilustrasi. Foto : Istimewa

Bekawan.com – Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Namun kadang-kadang dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi. Artinya materi pelajaran atau pesan yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya tidak seluruh materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa, lebih parahnya lagi siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan guru. Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari, disebabkan penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami.

Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru simpang siur, tidak fokus pada akar masalah. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat menyusun strategi pembelajaran dengan memanfaatkan media sebagai alat bantu.Dalam proses belajar mengajar
kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.

Media Pembelajaran merupakan Sebuah sarana pembelajaran yang digunakan oleh seseorang dengan menggunakan alat yang dibuat untuk memudahkan dalam penyampaian materi ketika mengajar di Sekolah.

Proses belajar mengajar media pembelajaran juga dapat membangkitkan semangat belajar dan minat dari siswa yang tinggi, selain itu juga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa.

Pemakaian atau penggunaan media juga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran di Sekolah. Media dimanfaatkan memiliki posisi alat bantu guru dalam proses mengajar, misalnya slide, foto, grafik, film, maupun pembelajaran menggunakan komputer yang berguna untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. Sebagai alat bantu dalam mengajar, media juga diharapkan dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar, mempertinggi daya serap serta retensi belajar siswa.

Menurut (Kustandi 2016:6) perkembangan media pembelajaran menuntut agar guru/pengajar mampu menggunakan alat-alat yang disediakan oleh sekolah, dan tidak menutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Media pembelajaran ini sangat membantu guru dalam mengajar di Sekolah dan merupakan solusi untuk membuat siswa senang ketika belajar dan tidak merasa jenuh. Agar siswa mendapat hasil yang diharapkan, maka guru dapat memperkenalkan pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa sementara guru hanya sebagai fasilitator saja. Dengan melibatkan siswa dalam setiap kegiatan dan memberi rasa nyaman pada siswa, sehingga mereka tidak jenuh dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

Media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta
peralatannya. Media dalam penggunaannya sebaiknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca. Pengertian media pembelajaran dapat diartikan sebagai perpaduan antara bahan dan alat.

Media pembelajaran bisa dipahami sebagai media yang digunakan dalam proses dan tujuan pembelajaran. Pada hakikatnya, proses pembelajaran juga merupakan komunikasi, maka media pembelajaran bisa dipahami sebagai media komunikasi yang digunakan dalam proses komunikasi belajar-mengajar tersebut.

Menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Berikut beberapa masalah dalam media pembelajaran di SD, diantaranya adalah:

1.Kurangnya Minat Guru untuk Memanfaatkan Media Pembelajaran

Dalam memanfaatkan media pembelajaran banyak sekali permasalahan yang dihadapi,
salah satunya adalah ada pada pendidik itu sendiri. Banyaknya media(terutama media modern) tidak memanjamin guru di sekolah dasar termotivasi untuk menggunakanya, bahkan semakin berat beban mental guru karena belum bisa menggunakannya, di sisi lain guru tidak mencari jalan keluar.

Dapat kita jumpai masih banyak guru di sekolah dasar yang menggunakan metode ceramah saja dalam pembelajarannya, tak ada media lain yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Banyak diantara pendidik yang tak pernah berpikir untuk membuat sendiri media pembelajarannya. Guru yang kreatif tak akan pernah menyerah dengan keadaan.

2. Ketidaktertarikan Peserta Didik pada Media Pembelajaran yang Digunakan

Banyak kita jumpai di sekolah dasar jumlah media pembelajaran kurang, kualitasnya buruk, dan media yang tidak accessible (mudah didapat/ diakses). ketidak tertarikan siswa terhadap pemanfaatan media tidak hanya berasal dari keadaan media itu sendiri, akan tetapi berasal dari bagimana pendidik dalam mengolah materi pembelajaran untuk disampaikan melalui media tersebut. Seperti telah dipaparkan dalam pembahasan sebelumnya bahwa satu media tertentu belum tentu cocok digunakan untuk semua materi pembelajaran.

Kecocokan antara materi pembelajaran dengan media belum tentu akan menghasilkan proses pembelajaran yang baik apabila pendidik tidak menyampaikan materi melalui media pembelajaran dengan baik pula. Oleh karena itu, kadang kala siswa akan merasakurang tertarik untuk memanfaatkan media pembelajaran karena membutuhkan proses lama untuk mencerna materi pembelajaran.

3. Keterbatasan Sarana Prasarana Media Pembelajaran

Kekurangan alat dan fasilitas media pembelajaran sebagai faktor dominan terhadap keberhasilan pembelajaran keterampilan harus diatasi. Sekolah sebagai penyelenggaran pendidikan formal haruslah memiliki sarana dan prasarana yang memadai, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Demikian pula dengan media pembelajaran, sebagai pendidikan yang pelaksanaannya bersifat praktek harus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai untuk kelancaran pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini guru dituntut untuk mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dan siswa dapat mengerti dan memahami materi yang disampaikan.

Solusi Dalam Mengatasi Permasalahan Media Pembelajaran :

1. Melakukan pelatihan kepada Pendidik Dalam Meningkatan Manajeman Pemanfaatan Media Pembelajaran

Meningkatkan kualitas guru dalam memanfaatkan media pembelajaran, membentuk mindset berfikir untuk secara sadar menggunakan media pembelajaran dalam mengajar, setelah itu baru mengadakan pelatihan pemanfaatan media pembelajaran. Fungsi pelatihan adalah membantu pendidik dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi
dan mengembangkan media pembelajaran, karena kesadaran untuk memanfaatkan media jauh lebih penting dari pada pelatihan memanfaatkan media tertentu, apa faedanya jika guru mahir memanfaatkan media tetapi tetap malas menggunakannya atau memanfaatkan media hanya untuk menggantikan posisi kehadirannya. Pelatihan bisa dilakukan dengan membentuk sebuah forum
nonformal yang mengundang ahli media pembelajaran.

Bentuk manajeman pengelolaan media pembelajaran (terutama media modernatau media yang jumlahnya terbatas di sekolah) dapat dilakukan dengan membuatdaftar jumlah media
pembelajaran yang tersedia di sekolah, membuat jadwal pengguna media pembelajaran, membentuk tim pengelola pemeliharaan media, danmembuat catatan-catatan lain yang relevan untuk manajeman pengelolaan media pembelajaran.

2. Mengkomunikasikan Rencana Pemanfaatan Media Pembelajaran kepada Peserta Didik

Kesuksesan pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri, maka mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media tertentu kepada peserta didik sangat penting. tujuan pemanfaatan media adalah untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran sebagai subjek pembelajaran. Bukan semata hanya untuk memudahkan guru dalam mengajar, serta terdapat kecenderungan pada siswa untuk menyukai atau tidak media pembelajaran tertentu sangat mungkin terjadi.

Mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media pembelajaran kepada peserta didik adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan dirinya untuk memanfaatkan media pembelajaran dengan mempelajari materi pelajaran yang akan disajikan melalui media pembelajaran dan mempersiapkan fasilitas yang diperlukan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media tersebut. Dari sisi guru sendiri, ada tuntutan agar guru lebih mempersiapkan dirinya mengenai materi pelajaran yang akan dibahas serta mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan (dalam kondisi baik) agar tidak menjadi hambatan sewaktu pemanfaatan media pembelajaran dilaksanakan.

3. Pendidik Harus Kreatif dan Inovasi Dalam Keterbatasan Media Pembelajaran

Kreativitas Guru keterampilan dalam mengatasi keterbatasan sarana prasarana. Guru keterampilan mempunyai sikap kreatif dalam pembelajaran praktek, hal tersebut dilakukan dalam mengatasi keterbatasan sarana prasarana media pembelajaran agar pembelajaran tetap dapat berlangsung dan dapat dipahami siswa.

Media pembelajaran sederhana menggunakan lingkungan sebagai media adalah dengan memanfaatkan objek langsung yang tersedia di lingkungan kita. Penggunaan media objek langsung dalam kegiatan pembelajaran, berarti siswa dapat belajar melalui lingkungan. Hal tersebut berarti bahwa guru dapat menjadikan lingkungan sebagai sumber dan media pembelajaran sekaligus dan media objek langsung, dapat digunakan guru sebagai sumber belajar, sekaligus menjadi media yang digunakan dalam kegiatn pembelajaran.

Penggunaan media objek langsung ini akan sangat membantu siswa dan guru untuk mengajar dan memahami suatu materi yang dipelajari atau di ajarkan. Untuk memanfaatkan media pembelajaran sederhana dengan menggunakan atau memanfaatkan media objek langsung ini dapat ditempuh langkah sebagai berikut:
Guru menetapkan standar kompotensi dan kompotesi dasar yang akan dicapai.

Membuat dan menyusun RPP dengan memasukkan penggunaan media pembelajaran atau objek langsung yang akan di masukkan pada bagian Media atau sumber belajar dari RPP. (Sekedar mengingatkan bahwa komponen RPP sekurang-kurangnya terdiri dari: SK, KD, Waktu, Materi, Kegiatan Pembelajaran, Media dan Sumber Belajar, serta Evaluasi).

Membuat langkah-langkah aktivitas siswa dan aktivitas guru pada saat memanfaatkan media sederhana yang bersumber dari lingkungan yang terdiri dari aktivitas Siswa sekurang-kurangnya terdiri dari; persiapan alat tulis, menulis atau mencatat hasil pengamatan terhadap objek, menyusun laporan hasil pengamatan serta menyampaikan hasil pengamatan. Untuk guru mata pelajaran, hendaknya telah menetapkan terlebih dahulu apakah aktivitas tersebut dilakukan secara mandiri atau berkelompok. Sehingga kegiatan siswa sampai pada pembuatan dan penyusunan laporan dilakukan secara kelompok atau mandiri.

Dosen Pengampu : Purba Wijaya,SPd.,M.Pd

Penulis : Andini Salsabila Lestari, Bella Kartika Br Lubis, Yusri Kurniati

 

Continue Reading

Karya Kawan

Menanti Definisi Pendidikan Menurut DR. Kamsol dalam Praktik Sebagai Pj Bupati Kampar

Published

on

 

Oleh: Iben Nuriska

Bekawan.com – Pendidikan dalam pengertian umum saat ini lebih tertuju pada tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, sehingga orang berpendidikan diartikan secara sempit hanya sebatas orang dengan gelar berjejer di depan dan belakang namanya. Sedangkan masyarakat yang masih mempraktikkan kebijaksanaan warisan tradisi masa lalu menjadi tidak dianggap sebagai kelompok masyarakat berpendidikan.

Sebagai contoh, ada sebuah kebajikan yang diterapkan oleh masyarakat di Kabupaten Kampar sejak ribuan tahun lalu — saat ini sudah ditinggalkan — tentang pertanda yang diberikan alam terkait penebangan kayu-kayu di hutan. Petuah ini saya dengar saat masih kecil. Saya tidak ingat lagi narasinya secara tepat, tetapi lebih kurang menyiratkan bahwa sebatang pohon di hutan baru boleh ditebang dan dimanfaatkan untuk kehidupan manusia ketika burung-burung tidak lagi bersarang di sana. Bukankah ini sebuah kebajikan yang dapat menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam?

Apakah kebajikan seperti ini masih dianggap relevan oleh orang-orang berpendidikan — dalam pengertian umum yang saya sebutkan di atas — di era kiwari? Kita dapat melihat berapa ribu hektar hutan di Kabupaten Kampar yang telah berganti menjadi lahan perkebunan. Dan ancaman dari kerusakan hutan berupa anomali cuaca saat ini sudah sangat kita rasakan, tinggal menunggu waktu saja, saya kira, alam akan menyelaraskan dirinya dengan kehidupan manusia dalam bentuknya yang mungkin tidak sanggup kita tanggung, seperti bencana longsor, banjir bandang dan sebagainya. Tentu, saya dan pembaca berharap itu tidak terjadi.

Kebajikan dan laku hidup hasil dari pendidikan tradisional di masa lalu, dimana alam terkembang menjadi guru, terus tergerus oleh sistem pendidikan yang berlandaskan pada produk pemikir era modern yang ditandai dengan dimulainya revolusi industri serta bersandar pada narasi besar yang menjadikan manusia sebagai makhluk superior dengan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas berkehandak terhadap alam semesta. Dan hasil dari produk pemikiran tersebut sudah bisa kita saksikan hari ini berupa kerusakan alam dan kecemasan serta depresi yang melanda sebagian besar warga bumi, baik yang disebabkan oleh bencana alam maupun peperangan.

Nah, dalam pidato pisah sambut Bupati Kampar dan Pj Bupati Kampar, DR. H. Kamsol yang ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri sebagai Pejabat Bupati Kampar menyampaikan bahwa pendidikan adalah investasi, semakin baik pendidikan semakin baik peradaban. Lalu, dari adanya penyempitan makna pendidikan dari esensi yang sesungguhnya, kita patut bertanya, apa definisi pendidikan bagi Pj Bupati Kampar tersebut? sehingga pendidikan yang baik itu mampu memperbaiki peradaban di Kabupaten Kampar.

Kabupaten Kampar diyakini oleh beberapa sejarawan sebagai pusat kerajaan Sriwijaya di masa lalu, dengan peninggalan berupa Candi Muara Takus, juga sebagai salah satu pusat pendidikan dan perdagangan. Dengan begitu Kampar merupakan peradaban besar di masa lalu. Kemudian, sistem politik, sosial dan kemasyarakatan di Kabupaten Kampar juga telah tersusun dengan sangat rapih dalam sistem kedatuan dengan pucuk pimpinan Datuk Ghajo Dubalai (mohon koreksi bila penyebutan gelar ini salah). Namun, kejayaan dan kebesaran Kampar di masa lalu dan sistem kehidupan yang sesungguhnya sudah sangat mapan tersebut hanya bisa kita dengar melalui cerita-cerita heroik dari sejarawan dan pengkaji budaya saja. Kenyataan kini, Kampar sudah tertinggal — di saat daerah-daerah lain mulai mengedepankan adat jatinya dalam laku sehari-hari dan sebagai spirit utama pemerintahannya, kita masih berdebat apakah lembaga adat ini sah dan lembaga adat itu tidak sah. Kenapa tidak bergandengan saja bila itu bisa menambah khazanah kebudayaan dan memperbaiki peradaban?

Dalam lanjutan pidatonya, DR. Kamsol menjabarkan elemen penting dalam pembangunan di Kabupaten Kampar yang akan ia rangkul. Elemen pertama telah tersebut dalam falsafah kepemimpinan di Kabupaten Kampar berupa menyatu dan saling sokongnya tiga elemen yang tergambar dalam makna tali bapilin tigo, tigo tungku sajoghangan. DR. Kamsol pun menambakah satu elemen penting lainnya, yakni komunitas.

Berbicara tentang elemen terakhir yang ditambahkan DR. Kamsol sebagai kekuatan untuk melakukan inovasi dalam pembangunan, penulis mencermati bahwa berbagai komunitas yang aktif dalam kajian-kajian dan berkreatifitas di ranah kebudayaan, sejarah, adat istiadat, kesenian, lingkungan hidup, sosial, pertanian dan juga di wilayah terkini seperti literasi digital, e commerce, dan pengkarya digital serta komunitas lainnya banyak anggotanya yang berpendidikan tidak melalui jalur formal. Artinya, kesadaran dan terdidiknya mereka serta terbentuknya kebajikan dalam laku hidup didapatkan melalui aktifitas yang dengan tunak mereka lakoni pada bidang masing-masing. Sedangkan orang-orang terdidik dengan menyandang gelar akademik lebih banyak berkomuni pada lembaga-lembaga akademik dan birokrasi. Apakah dengan kenyataan seperti ini DR. Kamsol tetap akan melibatkan komunitas-komunitas yang anggota-anggotanya tidak menyandang gelar akademik mentereng dalam proses pembangunan di Kabupaten Kampar?

Pertanyaan tentang definisi pendidikan menurut DR. Kamsol akan terjawab pada langkah awal Pj Bupati Kampar tersebut dalam merumuskan kebijakan di Kabupaten Kampar. Sebagai contoh, ketika nanti DR. Kamsol menggunakan kewenangannya melakukan evaluasi atas kinerja birokrat dan melakukan mutasi dan promosi jabatan para pejabat di berbagai tingkat esselon; apakah tradisi menempatkan seseorang berdasarkan kemampuannya dalam mengamankan kepentingan tertentu dengan mengabaikan keahlian yang dimiliki oleh si pejabat akan dipertahankan?;  ataukah DR. Kamsol akan menempatkan seorang pejabat sesuai dengan ilmu, keahlian, serta kemampuan si pejabat memahami dan menyelesaikan masalah di bidangnya secara kreatif dan inovatif?

Contoh itu sepenuhnya belum menjawab secara jelas pertanyaan apa definisi pendidikan dan orang terdidik menurut DR. Kamsol yang kemampuannya dalam dunia pendidikan tidak perlu kita ragukan mengingat berbagi posisi dan jabatan strategis yang pernah ia tempati, baik di lingkungan pemerintah Prov. Riau hingga ke tingkat kementerian. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menjadi terang benderang ketika DR. Kamsol menyusun rencana strategis dan rencana kerja pembangunan Kabupaten Kampar hingga tahun 2024. Apakah dalam rencana-rencana kerja tersebut DR. Kamsol mampu mengakomodir kepentingan berbagai komunitas masyarakat ataukah komunitas-komunitas itu tetap menjadi penonton setia hingga pemimpin berganti lagi?

Definisi tentang pendidikan menurut DR. Kamsol juga akan terjawab dengan jelas ketika Bupati Kampar tersebut mampu menghidupkan dan menggerakkan lembaga-lembaga pendidikan non formal sehingga mereka dapat bersumbangsih dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia di Kabupaten Kampar.

Kita berharap, dikotomi antara orang berpendidikan dan tidak berpendidikan dari kacamata gelar yang disandang bukanlah cara pandang DR. Kamsol, sehingga orang-orang berprestasi dan memiliki keahlian dalam bidang-bidang tertentu dapat berperan aktif dalam pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Kampar.

Dengan latar belakang DR. Kamsol yang bukan politisi, kita juga berharap Pj Bupati Kampar tersebut mampu menghidupkan dan menggerakkan program-program pembangunan berbasis komunitas dan mengurangi porsi program pembangunan yang bersifat elitis dan politis.

*** Penulis adalah jurnalis di bekawan.com. Penulis pernah bekerja sebagai aktor dan sutradara beberapa pementasan teater di Jogkakarta. Penulis juga pernah bekerja sebagai penulis skenario, asisten sutradara dan sutradara dalam beberapa produksi film fiksi dan dokumenter di Jogjakarta, Situbondo, dan Kabupaten Kampar. Karya sastra penulis tersebar di beberapa media cetak dan online dan dibukukan dalam kumpulan cerpen Pesan Wak Diran terbitan Umamotu; antologi puisi Penyair Muda Riau; Ayat-ayat Selat Sakat (kumpulan puisi pilihan Riau Pos); Antologi puisi dan cerpen Festival Trowulan Mojokerto terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur

Continue Reading

Trending