Connect with us

Kabar Kampar

Padi Lebih Menguntungkan dari Sawit, Indra Nouval: Ayo! Kembali ke Sawah

Published

on

Indra Noval petani muda Kampar. Foto : Bekawan.com

Bekawan.com – Kritik pedas kepada pemerintah, khususnya Dinas Pertanian Kabupaten Kampar, datang dari Indra Nouval — petani muda dan produktif — menanggapi wacana rencana kerja 100 hari Pj. Bupati Kampar untuk meningkatkan fungsi lahan seluas 500 ha, Indra Nouval mengatakan pemerintah harus segera melakukan evaluasi karena selama ini bantuan yang diberikan melalui Dinas Pertanian tidak tepat sasaran.

“Silahkan didata, bantuan bajak di seluruh Kampar, hanya 10% yang terpakai,” kata Indra Nouval kepada www.bekawan.com di Bangkinang (30/5/2022).

Dari penelusuran yang pernah ia lakukan, alat-alat pertanian bantuan pemerintah itu ada yang ia temukan di bawah kandang ayam, di dalam parit, bahkan ada di antaranya yang belum pernah difungsikan.

“Kelompok-kelompok tani yang betul-betul bekerja saat ini minim peralatan untuk bertani. Karena itu, semoga ini didengar oleh Pj. Bupati Kampar, agar beliau segera memerintahkan Dinas Pertanian melakukan evaluasi. Tarik kembali alat-alat pertanian yang sudah tidak difungsikan dan berikan kepada petani yang benar-benar bekerja dan membutuhkan,” tegas Indra Nouval.

Indra Nouval sendiri telah berfokus menjadi petani padi sejak tahun 2017. Sarjana Perikanan jebolan Universitas Riau ini pada mulanya memilih bertani palawijaya setelah usaha utamanya sebagai peternak ayam boiler mengalami kemerosotan pada tahun 2014. Saat itu, ia memiliki sebayak 124.000 ekor ayam boiler yang tersebar di 24 kandang, sedangkan harga ayam boiler di pasaran terus anjlok.

Menurut pengakuan pria kelahiran Desa Pulau Birandang ini, ide tentang integrated farming atau pertanian terpadu ingin ia wujudkan pada tahun 2002. Namun, keinginannya tersebut ia urungkan dan lebih fokus menjadi seorang peternak.

“Untuk mewujudkan pertanian terpadu, langkah awal yang paling tepat adalah menanam padi,” jelas Indra Nouval.

“Sawah itu adalah sektor pertanian yang zero waste, tanpa limbah. Selain menghasilkan produk utama berupa gabah yang akan diolah menjadi beras, poduksi samping yang bisa dihasilkan berupa jerami, sekam dan dedak yang dapat dimanfaatkan pada sektor perikanan dan peternakan,” lanjutnya.

Saat ini, ayah 4 orang putra tersebut sedang mengolah sawah seluas 30 hektar beserta lahan sepanjang 2 kilometer dengan lebar yang bervariasi (ada yang 100 m, ada yang 90 m dan sebagainya) di Desa Pulau Birandang dan Desa Pematang Kulim. Indra Nouval yakin Kabupaten Kampar bisa swasembada beras dan menjadi penghasil beras terbesar di Provinsi Riau.

“Hanya saja orientasi masyarakat yang menanam untuk konsumsi sendiri dan menjaga ketersediaan padi pada musim paceklik harus berubah menjadi orientasi bisnis. Bertani harus menjadi profesi,” ujar Indra Nouval dengan yakin.

Keyakinan Indra Nouval bahwa bertani padi bisa menjadi profesi utama telah ia buktikan selama lima tahun. Bukannya tanpa hambatan, ia mengakui selama dua tahun pertama hasil produksi padinya tidak memuaskan. Secara kualitas, beras yang ia hasilkan masih kalah bersaing dengan beras-beras yang ada di pasaran. Hal ini, menurut Indra Nouval, disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan peralatan yang ia miliki.

Namun, di tahun kelima, pada 2022, ia telah menghasilkan gabah sebanyak 200 ton dan beras merk Takau yang ia produksi telah masuk ke pasar-pasar tradisional dan sejumlah warung di Kabupaten Kampar sebanyak 20 ton. Tidak hanya itu, bertani padi secara profesional yang dilakoni Indra Nouval saat ini mampu menyerap sebanyak 22 orang tenaga kerja.

“Saya sudah membuktikan sendiri, pendapatan dari mengolah sawah itu lebih besar daripada berkebun sawit,” kata pria kelahiran 1977 ini.

Beras Merek Takau hasil produksi Indra Noval.

Menurut pengalaman Indra Nouval, 1 hektar sawah bisa menghasilkan sebanyak 5 ton gabah. Jika 1 kg gabah dihargai sebesar 5 ribu rupiah maka 1 hektar sawah bisa mendatangkan pendapatan sebesar 25 juta rupiah dalam rentang waktu 115 hari sejak masa tanam hingga masa panen, dengan waktu kerja dimulai pada pagi pukul 6 hingga pukul 10 dan dilanjutkan setelah ashar hingga menjelang magrib.

“Efisiensi waktu kerja dan masa produksi bisa dilakukan dengan peralatan modern,” jelas Indra.

Pada sesi akhir wawancara, Indra Nouval meminta kepada pemerintah agar program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pj. Bupati Kampar beberapa waktu yang lalu bukan sekadar program 100 hari, tetapi menjadi program berkelanjutan. Ia juga mengajak seluruh pihak, seperti ninik mamak, pemuka agama, tokoh pemuda dan pemerintah agar bersama-sama mengajak masyarakat yang memiliki lahan atau pun para pemuda yang masih menganggur agar kembali ke sawah.

“Kita kembali ke sawah. Apalagi saat ini lapangan pekerjaan sulit didapatkan, bertani merupakan solusi terbaik dan menjanjikan. Para pemuda di Kampar hanya membutuhkan keberanian dan keyakinan bahwa bertani tidak lagi dapat dipandang sebelah mata dan bukanlah profesi kelas dua,” yakin Indra Nouval.

Indra Nouval menambahkan, jika gerakan kembali ke sawah ini disambut oleh banyak orang, sebaiknya pemerintah daerah memberikan jaminan hasil produksi pertanian berupa ketersediaan pasar.

“Salurkan bantuk secara tepat sasaran dan pemerintah harus mengeluarkan regulasi jaminan hasil produksi pertanian masyarakat. Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Kita punya pasar-pasar tradisional, desa-desa kita punya Bumdes, jaminan ketersediaan pasar itu sesungguhnya bisa dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat semakin yakin untuk berprofesi sebagai petani,” tutup Indra Nouval. (ben)

Continue Reading

Kabar Kampar

Dukung Program Presiden Prabowo Terkait 3 Juta Rumah, Rumah Layak Huni Pemkab Kampar Naik Signifikan

Published

on

Kadis Perkim Kampar Rusdi Hanif.

Bekawan.com – Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Kampar menganggarkan pembangunan 79 unit Rumah Layak Huni (RLH) di tahun 2026, jumlah ini naik secara signifikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Selain Pembangunan 79 unit Rumah Layak Huni yang selaras dengan program 3 Juta rumah Presiden Prabowo Subianto, Kampar juga menganggarkan dari APBD untuk program rehabilitasi rumah sebanyak 234 unit yang tersebar di 21 Kecamatan se-Kabupaten Kampar.

“Tahun 2026 ini, alokasi anggaran di Perkim sangat signifikan oleh Bupati Pak Ahmad Yuzar dan Ibu Wakil Bupati Ibu Hj. Misharti untuk membantu masyarakat yang tidak memiliki rumah, rumah yang tidak layak, selanjutnya ada program bedah atau renovasi rumah dari APBD menganggarkan 234 unit, untuk mendukung program 3 juta rumah Presiden Prabowo Subianto dan selaras dengan Visi Misi Bupati dan Wakil Bupati Kampar,” ungkap Kepala Dinas Perkim Kampar Rusdi Hanif, ST, MT saat dijumpai diruang kerjanya, Kamis (16/7).

Sebagai Dinas teknis, Rusdi Hanif juga mengungkapkan bahwa dinasnya juga menjalankan program Rumah Layak Huni yang bersumber dari Bankeu dari provinsi sebanyak 17 unit dan juga bantuan dari kementrian berupa Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

“Sampai saat ini proses bantuan rumah layak huni dan bedah rumah ini sudah selesai diverifikasi sesuai dengan petunjuk teknis. Untuk tahun 2026 SK BNBA (by name by address) itu sudah ditandatangani, dan proses pengalokasian anggaran bantuan rumah layak ini sudah dilakukan oleh Kabid selaku kuasa pengguna anggaran secara bertahap dan sudah ditransfer kepada penerima melalui Kelompok Masyarakat (Pokmas) maupun Kelompok Penerima Bantuan (KPB),” papar Rusdi Hanif.

Tak hanya itu, Disperkim juga membentuk tim dan tenaga fasilitator untuk melakukan pengawasan dan pembimbingan agar proses pembangunan rumah layak huni dan bedah rumah ini bisa terlaksana sesuai dengan gambar, RAB dan petunjuk teknis yang ada.

Sebagai Kadis Perkim, Rusdi Hanif memahami betul bahwa bantuan rumah layak huni ini memang program yang sangat favorit karena terkait dengan kebutuhan dasar, untuk itu ia berharap bantuan ini bisa terselesaikan sesuai juknis dan bermanfaat bagi penerima bantuan tanpa adanya kekeliruan dilapangan termasuk soal pungutan liar.

“Memang kami dengar dalam beberapa hari ini ada isu yang tidak mengenakkan bahwasanya kami dari dinas Perkim melakukan pemungutan liar terhadap penerima bantuan rumah layak huni maupun bedah rumah, dalam hal itu saya selaku kepala dinas dan ibu Kabid Perumahan selaku kuasa pengguna anggaran menegaskan bahwa isu itu tidak benar,” tegas Hanif.

Ia juga telah mengingatkan jajarannya untuk tidak melakukan pemungutan liar disetiap program yang ada semenjak dia dipercaya sebagai Kadis Perkim Kampar, termasuk kepada jajaran PUPR karena dirinya juga dipercaya sebagai Plt. Kadis PUPR Kampar.

“Jangankan dalam bentuk ratusan ribu, satu rupiah pun saya tidak izinkan, karena ini adalah tugas mulia, tugas yang menjadi amal jariyah, membantu orang susah untuk mendapatkan hunian yang layak, sesuai arahan Bupati dan Wakil Bupati serta Sekda Kampar,” tambah Hanif.

Kabid Perumahan Dinas Perkim Kampar Yulita Buana, ST, MM juga memaparkan mekanisme dari awal hingga akhir tahapan swakelola tipe IV sesuai dengan petunjuk teknis, mulai dari proposal yang masuk, verifikasi hingga di SK Kepala Daerah kemudian dilakukan sosialisasi.

“Sosialisasi pertama kita adakan khusus untuk kepala desa penerima manfaat, disitu kita tekankan betul bahwa yang akan melaksanakan kegiatan ini nanti di SK kan oleh kepala desa, mohon orang-orang yang berlapang hati, berkompeten karena di sini membantu orang susah, ini bukan proyek, ini tidak ada keuntungan, jadi Kepala Desa akan meng SK kan orang-orang yang yang kompeten lalu diserahkan ke Perkim,” terangnya.

Kabid Perumahan Perkim Kampar Yulita.

Sosialisasi yang kedua, lanjut Kabid Yulita yaitu khusus untuk pelaksanaan kegiatan Bedah rumah dan Layak huni, dan kembali ditekankan bahwa tidak ada pungutan, tidak ada keuntungan dan harus dilaksanakan dengan kewajaran harga dan sesuai di desa setempat.

“Karena segala sesuatunya akan diperiksa, jadi anggaran APBD ini akan kita kasihkan ke desa, mereka yang melaksanakan dan mereka yang menerima manfaat, otomatis jika ada permasalahan maka mereka juga yang akan menanggungnya, jadi disosialisasi itu kita tekankan betul tidak ada pungutan,” papar Yulita.

Kepada masyarakat, Kadis Perkim Hanif juga berharap warga untuk melaporkan ke dinas terkait jika ada oknum yang tidak bertanggungjawab melakukan upaya pungli dan melakukan kroscek informasi jika ada isu-isu yang bersileweran baik di media online maupun media sosial.

“Intinya segala isu yang menyebut pungli ataupun jatah preman adalah fitnah dan hoax yang menyesatkan,” pungkas Rusdi Hanif.

Continue Reading

Kabar Kampar

Wabup Misharti Resmikan Jembatan Perintis di Gajah Bertalut Bantuan Presiden

Published

on

Peresmian jembatan di Desa Gajah Bertalut oleh Wabup Misharti.

Bekawan.com – Wakil Bupati Kampar Dr. Misharti meresmikan jembatan gantung perintis garuda wilayah Kodim 0331/KPR di Desa Gajah Bertalut Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Sabtu (11/7).

Menurut Wabup. pembangunan jembatan ini adalah wujud nyata perhatian Presiden RI terhadap masyarakat di Desa Gajah Bertalut yang pembangunannya di laksanakan oleh Kodim 132 KPR.

“Jembatan ini bukan sekadar penghubung fisik, tetapi penghubung harapan. Dengan adanya akses jalan, tentunya akan lebih memudahkan masyarkat dan anak-anak untuk beraktifitas tanpa harus menyeberangi sungai, petani bisa membawa hasil panen dan pelayanan kesehatan bisa lebih cepat menjangkau warga,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Kampar menyempatkan diri berdialog dengan warga, mendengarkan aspirasi masyarakat mengenai kebutuhan lain seperti listrik, air bersih dan fasilitas lainnya. Di akhir acara Wakil Bupati Kampar bersama Forkopimda dan perangkat Kecamatan serta Desa memberikan bantuan 20 paket sembako untuk masyarakat sekitar.

“Saya selaku perwakilan Pemerintah Daerah berterima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan Kodim 132 KPR atas pembangunan jembatan ini, mari kita sama-sama jaga jembatan ini dan semoga dapat membantu masyarkat serta meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Gajah Bertalut,” tutup Misharti.

Turut hadir dalam kegiatan ini di antaranya Dandim 0331 KPR di wakili oleh Mayor Inf Hendri, Kapolres di wakili oleh Baitul Muadis, Camat Kampar Kiri Hulu Bustamar. S.Pd, Kepala Desa Gajah Bertalut B. Zubir. S.Pd, seluruh tamu yang menghadiri kegiatan ini dan seluruh masyarakat Desa Bertalut.

 

Continue Reading

Kabar Kampar

Bahas Penanganan Batas Wilayah dan Tambang Emas Ilegal Pemkab Kampar Sinergi dengan 50 Kota

Published

on

Bupati Kampar Ahmad Yuzar saat bertemu Bupati 50 Kota dalam agenda membahas sejumlah persoalan tapal batas dan tambang emas ilegal.

Bekawan.com – Pemerintah Kabupaten Kampar bersama Pemerintah Kabupaten 50 Kota menggelar pertemuan Jumat (10/7/2026), koordinasi ini guna membahas berbagai persoalan di wilayah perbatasan kedua daerah, khususnya terkait aktivitas tambang emas ilegal yang berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Bupati Kabupaten 50 Kota tersebut dihadiri oleh Bupati Kampar, Ahmad Yuzar, S.Sos, MT, Bupati Kabupaten 50 Kota, Safni Sikumbang, Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar Dr. Ardi Mardiansyah, Camat Koto Kampar Hulu Ahmad Begab, Danpos Koramil Koto Kampar Hulu Sersan Mayor Mulyadi, serta sejumlah pejabat terkait.

Dalam pembahasan tersebut, kedua pemerintah daerah menyoroti persoalan batas wilayah Kabupaten Kampar, khususnya Kecamatan Kampar Kiri Hulu dan Koto Kampar Hulu, dengan wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.

Bupati Kampar menyampaikan bahwa, salah satu isu utama yang menjadi perhatian adalah masuknya alat berat yang diduga digunakan untuk aktivitas penambangan emas ilegal di kawasan perbatasan, terutama di wilayah Kampung Gelugur, Koto Tongah, dan Tanjung Jajaran.

Aktivitas tersebut dinilai telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, khususnya pencemaran aliran sungai yang dirasakan masyarakat hingga ke wilayah Rantau Larangan, Kabupaten Kampar.

“Meskipun lokasi aktivitas penambangan berada di luar wilayah administrasi Kabupaten Kampar, namun dampak kerusakan lingkungan dan pencemaran air sungai turut dirasakan oleh masyarakat Kampar yang menggantungkan kebutuhan hidup dari aliran sungai tersebut” jelas Ahmad Yuzar.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar, Dr. Ardi Mardiansyah, menegaskan bahwa kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Pemerintah harus memastikan masyarakat memperoleh pelayanan yang baik, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam agar tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Dalam pertemuan itu, kedua pemerintah daerah sepakat bahwa penyelesaian persoalan ini memerlukan koordinasi lintas kabupaten, lintas provinsi, serta melibatkan pemerintah pusat mengingat adanya kawasan hutan dan persoalan penetapan batas wilayah yang masih menjadi kendala dalam pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum.

Continue Reading

Trending