Connect with us

Karya Kawan

Zalka Putra, Kades 2 Periode ke Caleg Nomor 2

Published

on

Terlahir sebagai lelaki satu-satunya dari 5 bersaudara dan dibesarkan dari keluarga petani yang sangat sederhana di Desa Rimbo Panjang, menjadikan sosok Zalka Putra, sudah terbiasa berjuang untuk menghidupi keluarganya sejak kelas 3 SMP.

Ia mengorbankan masa mudanya dengan bekerja sebagai buruh tani. Pekerjaan itu juga yang akhirnya menghantarkan dirinya bisa menimba ilmu di bangku perkuliahan.

Bagi Zalka Putra, kehidupan yang sulit sudah biasa dia jalani sejak usia belia, namun ia bertekad agar apa yang ia alami jangan sampai dirasakan oleh orang-orang sekitarnya.

Tahun 1994, Jurusan manajemen di Fakultas Ekonomi UNRI (UR) menjadi pilihan Zalka Putra untuk mengenyam pendidikan di Perguruan tinggi, belum genap 3 tahun menjalani pendidikan di UNRI, Zalka muda sudah mendapatkan amanah untuk menjadi Ketua RT di Rimbo Panjang.

Sosok Zalka Putra dikenal hobi berorganisasi

Sehingga ada motivasi lain dalam diri Zalka Putra untuk memutuskan bersusah payah mencari biaya kuliah disamping menghidupi keluarganya, yakni agar ilmu yang didapatnya tak hanya bermanfaat bagi dirinya namun juga bermanfaat bagi orang-orang disekililingnya dan masyarakat.

Berperan aktif sebagai Ketua RT di Rimbo Panjang menjadi awal kiprahnya ditengah masyarakat, semenjak itu Zalka bertekad untuk terus melayani dan memberikan pelayanan serta memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya.

Terlibat dibanyak organisasi seperti OPRIS menjadi pilihan Zalka Putra agar berguna ditengah masyarakat, karena dirinya meyakini untuk dapat melayani dan memberi pelayanan bagi masyarakat harus banyak ikut terlibat di organisasi kemasyarakatan.

Zalka Putra Bersama Generasi muda

Zalka Putra turut aktif membina anak anak muda melalui sepak bola dan bola voli, upayanya pun berbuah manis, karena binaannya kini telah menjadi atlit di Porda Kampar dan Pekanbaru, bahkan sudah ada yang bekerja di berbagai instansi pemerintah dan non-pemerintah.

Selain melakukan pembinaan terhadap anak anak muda melalui olahraga, Zalka Putra juga memfasilitasi pendidikan atlit yang berprestasi hingga mereka dapat merasakan bangku perkuliahan. Hal itu dilakukanya karena Ia tidak ingin perjuangan yang begitu pahit yang dialaminya dahulu, dirasakan oleh anak-anak binaannya.

Pembinaan generasi muda, begitu penting dimata Zalka, karena menurutnya selain untuk mewujudkan minat, bakat dan cita-cita, pembinaan juga bisa menjaga dan menjauhkan generasi muda dari perbuatan negatif seperti narkoba dan pergaulan bebas, yang dinilainya sangat membahayakan generasi muda, para penerus perjuangannya kelak.

Selain bidang olahraga dan pendidikan yang menjadi perhatiannya, Zalka Putra juga menjadi bagian dari remaja masjid, bahkan dirinya dititipkan amanah sebagai Ketua remaja masjid saat itu, seiring dengan itu Zalka Putra juga menjadi guru ngaji dan MDA hingga tahun 2004.

Berdialog bersama masyarakat

Semua dilakukan semata-mata agar dirinya terus dapat melayani dan memberikan pelayanan bagi seluruh elemen masyarakat.

Zalka menilai, usahanya membangun masyarakat ditingkat organisasi dirasakan masih sangat kurang, untuk itu, setelah selesai menjalani tugas sebagai Ketua RT dan berbagai organisasi di tingkat masyarakat, Zalka Putra diberi amanah untuk menjadi sekretaris LPM hingga terpilih menjadi Kepala Desa Rimbo Panjang pada tahun 2005 hingga 2017.

Pada saat menjadi kepala Desa, Zalka Putra mulai membenahi apa yang tidak bisa ia benahi saat terlibat di berbagai organisasi kemasyarakatan, diantaranya melakukan pembenahan terhadap lembaga sosial dan sarana Pendidikan di Rimbo Panjang.

Ia juga membangun pusat restorasi gambut dan pengendalian Karhutla yang selalu menjadi masalah di Rimbo Panjang, melanjutkan pembangunan generasi muda melalui sepak bola, bola voli dan memfasilitasi pendidikan atlit berprestasi, hingga pada puncak kepemimpinanya, bersama–sama masyarakat berhasil mendirikan SMK N 1 Tambang yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Bersama simpatisannya

Dirinya juga dipercaya langsung oleh masyarakat untuk menjadi ketua Komite sehingga dapat terus mengawal dan melayani masyarakat yang hendak melanjutkan Pendidikan di SMKN 1 Tambang.

Dari pengalamannya sebagai Kades, Zalka Putra menyadari bahwa kompleksnya persoalan didesa serta rendahnya kemampuan desa untuk mewujudkan berbagai kebutuhan masyarakat, untuk itu ia memandang perlu keterlibatan Anggota DPRD yang menyerap aspirasi masyarakat desa.

Untuk itu, berdasarkan pengalaman dan pengabdiannya selama menjadi Kepala Desa, dirinya memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih jauh, agar kebutuhan masyarakat di desa dapat terpenuhi.

“Saya memegang prinsip bahwa dalam menjalani hidup, melayani dan memberikan pelayanan bagi masyarakat sudah menjadi rutinitas dalam setiap hari, sehingga tidak ada satu haripun yang saya lewatkan tanpa melayani dan memberi pelayanan bagi masyarakat,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (11/4/2019).

Setelah tugasnya melayani dan memberikan pelayanan bagi masyarakat di Desa Rimbo Panjang hingga tahun 2017 selesai, Zalka Putra memutuskan untuk tetap melayani dan memberikan pelayanan bagi masyarakat melalui DPRD di Kabupaten Kampar.

Melalui Partai Keadilan Sosial atau PKS Nomor Urut 2, beliau saat ini merupakan Calon Anggota DPRD Kabupaten Kampar dari Daerah Pemilihan Tambang, Kampar, Kampa, Rumbio Jaya, dan Kampar Utara.

Zalka Putra memanggil dan mengajak bagi masyarakat Tambang, Kampar, Kampa, Rumbio Jaya, dan Kampar Utara untuk ikut berkontribusi bersama dirinya dalam melayani dan memberikan pelayanan bagi masyarakat melalui DPRD Kampar, “Yuk tanggal 17 April 2019 datang ke TPS, Lalu buka surat suara warna hijau, cari partai PKS dan coblos nomor urut 2 atas nama Zalka Putra,” ajaknya.

Continue Reading

Kabar

Pengamat Politik: Polisi Dibawah Kementrian Sebuah Kemunduran dan Ancaman Serius 

Published

on

Pengamat Politik Boni Hargens. Foto : sc inews

Bekawan.com – Pengamat Politik Boni Hargens menilai meletakkan instansi Polri dibawah kementrian adalah cacat logika, cacat tata negara dan melawan prinsip demokrasi. Hal itu ditegaskan dalam acara dialog di salah satu tv nasional, Selasa (10/2/2026) malam.

“Isu soal penempatan Polri di bawah kementerian bagi saya ini cacat logika, cacat tata negara dan melawan prinsip demokrasi, kenapa saya katakan demikian, karena demokrasi yang kita anut dibangun di atas tiga pilar yang namanya eksekutif, legislatif dan yudikatif, kenapa Trias politika itu ada dalam konteks bukan hanya separation of power tapi distribution of power,” ungkapnya.

Pembahasan itu mencuat usai sejumlah tokoh yang mengkritisi pemerintah bertemu dengan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu untuk membahas sejumlah persoalan, dalam pertemuan itu Presiden juga mengungkapkan perihal adanya usulan Polri dibawah kementrian.

Dosen Universitas Indonesia ini juga menjelaskan bahwa menentukan posisi Polri juga bicara soal distribusi kekuasaan, demokrasi mengatur tidak adanya konsentrasi kekuasaan pada satu tangan dan kepolisian adalah bagian dari namanya yudikatif bagian dari fungsi penegakan hukum.

“Polri bertanggung jawab kepada Presiden di situ dalam kapasitas kepala negara bukan kepala pemerintahan, karena sebagai kepala negara, presiden di atas semuanya, tapi sebaliknya kalau sebagai kepala pemerintahan, presiden hanya di atas kelompok politiknya dan birokrasi pemerintahan yang sedang berjalan. Kalau misalnya kepolisian ditaruh di bawah kementerian, kementerian itu artinya bicara kabinet, kabinet adalah pembantu presiden dalam kapasitas sebagai kepala eksekutif, kepala pemerintahan bukan kepala negara, maka ini juga akan menjadi pelemahan terhadap kewenangan presiden sebagai kepala negara. Presiden sebagai kepala negara itu akan kehilangan ruang dari aspek hukum untuk ikut terlibat di dalam menjamin kepastian hukum keadilan dan sebagainya,” paparnya.

Ia menilai meletakkan Polri di bawah kementerian adalah sebuah kemunduran dan sebuah ancaman yang serius sebagai penegakan hukum di masa depan, karena memberi ruang politisasi terhadap penegakan hukum.

Continue Reading

Karya Kawan

Tantangan Utama Tranformasi Digital di Kampar

Published

on

Nunik Handriani, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning.

Bekawan.com – Nunik Handriani, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM., menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya dalam pengembangan layanan digital di Kabupaten Kampar. Ia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi mengelola sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak dapat digantikan.

Di Kabupaten Kampar, tantangan utama meliputi kompetensi SDM teknologi informasi, infrastruktur digital yang belum merata, serta kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung inovasi. Nunik menilai bahwa pendekatan berbasis Resource-Based View (RBV) diperlukan agar organisasi mampu memaksimalkan potensi sumber daya internal secara lebih terarah.

Ia mengusulkan analisis menyeluruh terhadap sumber daya yang dimiliki, memperkuat kolaborasi dengan universitas dan perusahaan teknologi, serta menyediakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi secara berkelanjutan. Penguatan infrastruktur seperti data center dan jaringan internet juga menjadi prioritas untuk memastikan layanan digital yang cepat dan transparan.

Nunik menekankan perlunya pengembangan kapabilitas dinamis agar organisasi mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta memastikan kebijakan berbasis data yang mendukung efisiensi dan akuntabilitas. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sumber daya akan menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Dalam pandangan Dr. Chandra Bagus sebagai masyarakat sekaligus peneliti Ilmu Manajemen, isu yang diangkat Nunik menunjukkan bahwa transformasi digital menuntut lebih dari sekadar kesiapan teknis. Ia menilai bahwa gagasan Nunik memperlihatkan pemahaman yang matang mengenai pentingnya tata kelola yang konsisten dan sinergi lintas sektor, serta memberi arah strategis bagi daerah yang ingin membangun layanan digital yang benar-benar berkelanjutan.

 

 

 

 

Continue Reading

Karya Kawan

Tak ada Disharmonisasi di Kampar (Renungan kita, untuk melawan lupa)

Published

on

By : Nur Adlin (Wakil Ketua Partai Golkar Pemenangan Pemilu Wilayah I)

Bekawan.com – Sekitar 8 tahun Kampar tak memiliki Wabup, plus 5 tahun sebelumnya (ada tapi tak ada), dalam rentang jarak total 13 tahun, ada Catur sugeng hadir sebagai Wabupnya Alm. Azis zaenal, juga berkeadaan miris dalam fungsinya, artinya bukan sebagai pelengkap, tapi lebih bawah dan lebih rendah dari itu.

Namun kini, Pemerintahan baru hasil Demokrasi telah berjalan setahun, walaupun saya sebagai penulis bukan bagian dari tim pemenangan, namun merasa patut dan boleh menyampaikan opini saya, terutama terkait tuduhan yang sengaja diberitakan tanpa parameter yang jelas, dan terkesan pikiran sporadis, tentang Disharmonisasi antara seorang Wabup yang dianggap over fungsi oleh orang yang menyampaikan berita.

Untuk itu perlu kita kembali tahu atau mengingat bahwa tugas Wakil Bupati adalah membantu Bupati menyelenggarakan pemerintahan daerah, memberikan saran, mengoordinasikan instansi vertikal, memantau pemerintahan kecamatan/desa, serta melaksanakan tugas Bupati saat berhalangan sementara (tahanan/sakit), atau tugas lain yang didelegasikan Bupati, termasuk menjadi Bupati definitif jika Bupati berhalangan tetap. Wakil Bupati bekerja di bawah arahan Bupati dan bertanggung jawab kepada Bupati.

Maka jelas Job Deskripsinya bukan sebagai pelengkap, atau diam-diam saja, tapi bagaimana mendorong efektivitas pemerintahan lebih baik, khusus Kampar, wajar ada keterkejutan yang dialami beberapa orang, karena sudah sekitar 13 tahun Kampar serasa memiliki Pimpinan tunggal, dan ketika sekarang posisi Wabup difungsikan sebagai mana mestinya-untuk optimalkan roda pemerintahan yang mempunyai beban kerja- tentu bagi yang gagal paham ada keanehan di frasa pikirannya, karena menemukan kerja Wabup yang aktif, yang sudah lama tak ditemukan di Kabupaten Kampar.

Dengan demikian, tulisan ini ada agar pemikiran yang ber-sakwasangka yang dapat membuat simpang siur itu menjadi lebih bijak dan arif. Kritikan adalah hal yang lumrah, tapi yang tendensius tentu saja kurang afdhol.

Bupati adalah pemimpin eksekutif tertinggi di daerah tentu saja akan memanfaatkan formasi kepemimpinannya termasuk juga Wakilnya untuk pencapaian Visi Misi dengan anggaran yang telah ditetapkan bersama DPRD dalam tahun berjalan dan juga mempersiapkan program dimasa kedepan, tentu saja dilengkapi dengan evaluasi untuk memaksimalkan apa yang akan dicapai.

Akhir dengan tulisan ini, izinkan saya untuk mengisi media sebagai wahana berfikir kita bersama dan memperkokoh kebersamaan dalam membangun negeri kita ini, walaupun fungsi kita sebagai masyarakat dengan berbagai latar belakang juga terhitung sebagai patriot yang sportif.

 

Continue Reading

Trending